Mencoba Mengabdikan Kehidupanku

Jumat, 20 Juli 2012

Tuhan Sama Dengan Pembantu?


Setelah lulus SMU, kira-kira bulan mei atau juni 2004, saya bertekad bisa diterima kuliah di universitas Negeri. Waktu itu saya ikut ujuan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa baru) ambil IPC (IPA & IPS), dengan dasar pemikiran bisa memilih Universitas Negeri lebih banyak sehingga kans diterima masuk perguruan tinggi negeri lebih besar.

Namun apa daya nasib berkata lain, saya tidak diterima masuk Perguruan Tinggi Negeri, dari 3 Universitas yang dipilih tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Kecewa pasti, bahkan hari-hari itu saya gambarkan sebagai hari-hari menyalahkan Tuhan.  Dengan kondisi ekonomi yang tidak terlalu bagus, saya terancam tidak bisa melanjutkan kuliah, tahu sendiri biaya kuliah di Universitas Swasta mahal, apalagi di Jakarta.

Tapi ternyata pertolongan Tuhan datang melalui saudara saya, Pater Nikolaus Hayon, yaps dia adalah saudara dari almarhumah Papa, Pastor dan ahli Liturgi ini juga sudah meninggal akibat serangan jantung. Waktu itu beliau memberi saya uang untuk biaya pendaftaran kuliah, Pater (biasa saya memanggilnya), memang terkenal sebagai orang yang ringan tangan (menolong) kepada suadara-saudaranya.

Singkat kata, saya akhirnya kuliah di salah satu Universitas Swasta Jakarta, lulus empat tahun dengan  predikat Cum Laude, sebelum kuliah rampung pun saya sudah mendapatkan pekerjaan di Metro TV, tidak hanya itu, di kampus saya juga sudah mendapatkan seorang pacar yang bertahan sampai sekarang.

Sekarang saya justru merasa sangat bersyukur karena tidak lulus SPMB, karena kalau lulus pasti saya tak akan bertemu dengan pacar saya. Jujur dia udah saya anggap bukan sekedar pacar, tapi teman hidup & sahabat sejati, hubungan dengan  dia bener-bener istimewa, kita tidak hanya canda-candaan, nonton, makan atau jalan bareng. Kita justru saling menguatkan, saling berbagi permasalahan, kesusahan, semua kita hadapi bersama.

Yah itulah alasan kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa saya untuk kuliah di Universitas Negeri, DIA sudah mempunyai rencana mempertemukan saya dengan partner hidup di kampus yaitu pacar saya saat ini dan itu tidak akan tergantikan dengan apa pun.

Pengalaman hidup saya di atas adalah salah satu contoh, kalau rencana hidup yang dibangun atas pemikiran kita, belum tentu yang terbaik, Tuhanlah yang lebih tahu rencana terbaik, karena Dia adalah pencipta kita.

Ingat Tuhan itu bukan pembantu, yang siap mengabulkan permohonan kita. Tuhan tolong saya,  mau punya itu, mau ini, lulus ini, pengen jadi ini itu, pengen kerja di sini, di sana dan sebagainya. Kalau kita memperlakukan Tuhan seperti itu, sama saja kita memperlakukan Tuhan seperti pembantu. 

Dia itu sudah jauh-jauh hari membuat rencana buat kita, jadi biarlah semuanya Tuhan yang mengatur, kalaupun keinginan, cita-cita, impian atau harapan kita gagal, maka IA akan menggantikan dengan hal yang sangat-sangat luar biasa. 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Stats

Diberdayakan oleh Blogger.

Your Comment

Followers

Text Widget

Copyright © Mikhael Wr Blog | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com